Batik Tulis Lintang Malang
Peserta Workshop Membatik yang Langsung Dimentori Oleh Owner Galeri Batik Lintang Ibu Ita Fitriyah, S.T, M.T
Malang, 12 Agustus 2026 — Selembar kain putih mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik setiap garis, warna, dan motif yang terlukis di atasnya, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta kreativitas. Hal tersebut menjadi pengalaman yang dirasakan langsung oleh para peserta pelatihan membatik di Yonkes 2 / Yudha Bhakti Husada yang berlangsung selama tiga hari, pada 10–12 Agustus 2026.
Kegiatan ini diselenggarakan bersama Batik Lintang Malang dengan menghadirkan Ibu Ita Fitriyah, S.T., M.T. selaku Owner Batik Lintang Malang, serta didampingi oleh tim. Tidak sekadar memberikan materi mengenai batik, pelatihan ini mengajak para peserta untuk terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatannya. Dari selembar kain yang masih polos, peserta perlahan diajak mengenal bagaimana sebuah motif dirancang, dituangkan, diberi warna, hingga akhirnya menjadi kain batik yang utuh.
Hari pertama, 10 Agustus 2026, menjadi langkah awal perjalanan peserta dalam mengenal proses membatik. Kegiatan dimulai dengan pengenalan mengenai pembuatan pola dan motif, kemudian dilanjutkan dengan proses menjiplak gambar ke atas kain.
Pada tahap ini, peserta mulai belajar bahwa sebuah kain batik tidak lahir begitu saja. Sebelum canting menyentuh kain, terdapat proses perencanaan dan ketelitian dalam menentukan bentuk serta susunan motif. Setiap garis yang dipindahkan ke kain menjadi panduan untuk proses berikutnya.
Setelah pola selesai, peserta mulai diperkenalkan dengan teknik mencanting. Canting yang berisi malam digunakan untuk mengikuti garis-garis motif yang telah dibuat. Perlahan, kain putih yang semula kosong mulai dipenuhi guratan-guratan motif.
Bagi sebagian peserta, mencanting menjadi pengalaman baru yang membutuhkan penyesuaian. Mengatur aliran malam, menjaga ketebalan garis, sekaligus mengikuti pola pada kain menjadi tantangan tersendiri. Namun justru dari proses tersebut peserta mulai memahami bahwa membuat batik membutuhkan ketelatenan dan kesabaran.
Perjalanan berlanjut pada 11 Agustus 2026. Setelah kain melalui proses pencantingan, peserta memasuki tahap yang memberikan kehidupan baru pada motif, yaitu pewarnaan.
Sebelum mulai mewarnai, peserta mendapatkan penjelasan mengenai proses pencampuran cat dan warna. Mereka belajar bagaimana beberapa warna dapat dipadukan untuk menghasilkan warna yang sesuai dengan konsep motif yang telah dibuat.
Setelah warna siap, kain hasil cantingan mulai diwarnai secara perlahan. Kuas dan warna menjadi bagian penting dalam proses ini. Setiap sapuan warna memberikan karakter yang berbeda pada kain, sementara garis-garis malam tetap menjaga batas pada motif yang telah dibuat.
Di sinilah kreativitas peserta semakin terlihat. Kain yang sebelumnya didominasi warna putih mulai berubah menjadi karya yang lebih hidup. Setiap peserta memiliki hasil yang berbeda, karena pilihan warna dan cara mengaplikasikannya memberikan karakter tersendiri pada setiap kain.
Proses tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa batik bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menuangkan kreativitas dan karakter melalui warna.
Memasuki hari ketiga, 12 Agustus 2026, peserta sampai pada tahapan yang menjadi salah satu momen paling menarik dalam proses membatik, yaitu pemasakan kain menggunakan water glass dan pelorotan.
Pada tahap pemasakan, peserta mempelajari bagaimana kain diproses agar warna yang telah diaplikasikan dapat bertahan dengan baik. Setelah itu, proses dilanjutkan dengan pelorotan, yaitu menghilangkan malam yang sebelumnya digunakan untuk membentuk dan membatasi motif pada kain.
Secara perlahan, malam yang menutupi bagian-bagian tertentu pada kain mulai dilepaskan. Motif yang sebelumnya masih terlihat samar kemudian muncul dengan lebih jelas. Proses ini seolah menjadi tahap untuk membuka hasil dari seluruh pekerjaan yang telah dilakukan selama dua hari sebelumnya.
Dari pola yang dibuat, garis-garis yang dicanting, warna yang diaplikasikan, hingga proses pelorotan, semuanya mulai menyatu menjadi sebuah karya batik.
Tahap terakhir kemudian dilanjutkan dengan finishing, untuk memastikan kain berada dalam kondisi yang baik dan siap digunakan. Pada titik ini, peserta dapat melihat hasil dari proses panjang yang telah mereka jalani selama tiga hari.
Pelatihan membatik di Yonkes 2 / Yudha Bhakti Husada menjadi sebuah pengalaman yang mempertemukan peserta dengan proses kreatif dan budaya secara langsung. Selama tiga hari, peserta tidak hanya belajar bagaimana cara membuat batik, tetapi juga merasakan sendiri proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, kreativitas, dan ketekunan.
Pendampingan yang diberikan oleh Ibu Ita Fitriyah, S.T., M.T. bersama tim Batik Lintang Malang turut memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dan interaktif. Setiap tahapan dijelaskan dan dipraktikkan secara langsung sehingga peserta dapat memahami bagaimana sebuah karya batik dibangun sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, kain yang dihasilkan bukan sekadar selembar kain dengan motif dan warna. Di dalamnya terdapat proses belajar, pengalaman, kesabaran, serta cerita dari setiap tangan yang mengerjakannya.
Melalui kegiatan ini, Batik Lintang Malang terus berupaya menghadirkan batik lebih dekat dengan masyarakat. Karena untuk mengenal dan mencintai batik, terkadang kita tidak cukup hanya melihat hasil akhirnya. Kita perlu merasakan prosesnya—menorehkan malam, memberikan warna, menunggu hasilnya, hingga akhirnya menyaksikan sebuah karya lahir dari tangan sendiri.
WhatsApp us